judul : qais dan laila (laila majnun)
subJudul : qais dan laila (laila majnun)
qais dan laila (laila majnun)
Assalamualaikum...wr..wb..
Salam manis
tidak akan habis,salam sayang tidak akan hilang jumpa lagi bersama achmedany.blogspot.com....
Pada postingan
kali ini saya selaku admin ingin berbagi cerita yang sangat menyentuh hati tentang
seorang lelaki yang sangat pandai,namun di kemudian hari menjadi gila karena
kasih yang tak sampai..yang mungkin dalam cerita versi indonesia sering kita
kenal dengan qais dan laila
Laila Majnun
adalah, sebuah kisah cerita dari rakyat
arab, tentang kecantikan seorang gadis bernama Laila, yang menarik hati seorang
pemuda, Qais keturunan dari Bani Amir.yups kita simak baik-baik kisahnya berikut ini:
Laila
majnun
Tersebutlah seorang
pemuda bernama Qais yang semula pandai, gagah dan
berasal dari kabilah terhormat, menjadi “majnun” alias gila, karena kasihnya
yang tak sampai. Qais, yang tersiksa karena takdir yang selalu memusuhinya,
sedang hasrat tak mampu ditundukan hatinya, menjadikan dia lupa akan hakikat
hidupnya sendiri. Walau kegilaan yang dialaminya mengilhami tutur bahasa sastra
yang indah, dan ketulusan jiwa dalam derita cinta, tetap saja sebutan “majnun”
tak dapat ditepisnya.
Kisah tentang Qais dan Laila yang
hidup di suatu negeri wilayah tanah Arab. Qais yang berwajah tampan dan Laila
yang terkenal akan kecantikannya, yang menjadi dambaan setiap laki-laki.
Akhirnya cinta mereka kandas karena adat melarang mereka untuk mengekspresikan
gelora cintanya. Maka, tumpah ruahlah segala rasa rindu dan cinta dalam bentuk
syair dan puisi yang mengalir menentang takdir mereka.
Suatu ketika Qais memutuskan ikut
berniaga ke negeri lain bersama ayahnya agar kelak ia memiliki bekal
pengetahuan sendiri tentang perniagaan. Ketika pamit kepada Laila, Qais
memberikan seuntai kalung mutiara sebagai tanda kesetiaannya. Qais minta Laila
berjanji untuk melepaskan sebuah mutiara dari untaiannya apabila waktu sudah
menunjukkan bulan baru. Ia pun berjanji akan kembali sebelum untaian mutiara
habis.
Meskipun sangat sedih, Laila
merelakan kekasihnya pergi mencari pengalaman.
Sepeninggal Qais, Laila hanya
bermenung diri dan menciptakan syair sebagai pelambang rindu.
Suatu hari, ayah
Laila, Al-Mahdi, pulang ke rumah bersama seorang tamu bernama Sa’d bin Munif,
yang diajak menginap. Tamu itu seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Irak.
Ketika berjumpa Laila, Sa’d bin Munif langsung jatuh cinta dan melamar Laila
kepada ayahnya. Tanpa sepengetahuan Laila, Al-Mahdi menerima lamaran tersebut
karena tergiur oleh mas kawin 1.000 dinar dan harta kekayaan Sa’d bin Munif.
Laila tak berdaya melawan perintah ayahnya karena adat memang menyatakan bahwa
laki-laki berkuasa atas perempuan. Sementara itu, Qais yang telah memasuki
bulan ke-9 ikut berniaga ke negeri-negeri seperti Damsjik, Jerusalem, Hims,
Halab, Anthakijah, Irak, Koefah, hingga Basrah tidak dapat lagi menahan
rindunya terhadap Laila.
Wajahnya tampak muram dan badannya semakin kurus. Ayah
Qais melihat kesedihan anaknya dan menanyakan ada apakah gerangan yang telah
mengganggu pikirannya. Akhirnya Qais berterus terang tentang kisah cintanya
dengan Laila. Demi mendengar penuturan anaknya, Al-Mulawwah memutuskan segera
kembali ke kampung halamannya dan berjanji akan melamar Laila untuk Qais.
Ketika sampai kampung halaman, Al-Mulawwah bergegas menemui ayah Laila dan
menawarkan 100 unta sebagai pengganti uang 1.000 dinar yang telah diberikan
Sa’d bin Munif. Akan tetapi, dengan sombongnya, ayah Laila menolak lamaran
Al-Mulawwah. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Laila dan Sa’d bin
Munif diselenggarakan secara besar-besaran. Maka, hancur luluhlah hati Qais.
Tak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan sakitnya ini, meskipun orangtuanya
telah mendatangkan banyak tabib ternama. Sejak itu Qais tidak mau berbicara
kepada orang lain, ia sibuk dengan dirinya sendiri dan sering kali terlihat berbicara
sendiri. Karena perilaku aneh inilah orang sekampungnya memanggil Qais dengan
Majnun, yang berarti kurang sempurna pikirannya.
Akan halnya Laila, meskipun kini
telah menjadi istri Sa’d bin Munif, ia tetap mencintai Qais. Menurut Laila,
secara fisik ia boleh menjadi istri Sa’d bin Munif, tetapi jiwanya tetap untuk
Qais. Dalam ungkapannya, di dunia Qais dan Laila bukanlah pasangan suami istri,
tetapi di akhirat mereka menjadi pasangan abadi.
Karena tak kuat menanggung
penderitaan cinta ini, Laila sakit dan selalu memanggil nama Qais. Akhirnya
Qais pun dipanggil untuk menemui Laila. Ketika mereka bertemu, Laila memberi
pesan terakhir bahwa mereka akan bertemu nanti di akhirat sebagai sepasang
kekasih.
Demi melihat kekasihnya meninggal, putus asalah Qais. Tak ada lagi
keinginannya untuk hidup. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di pusara Laila
hingga akhirnya Qais meninggal. Maka, jasad Qais pun dibaringkan di samping
pusara Laila.
Kira-kira 10 tahun kemudian,
beberapa musafir menziarahi kubur mereka berdua. Di atas kedua pusara itu telah
tumbuh dua rumpun bambu yang pucuknya saling berpelukan. Maka, masyhurlah kisah
ini sebagai kisah Laila-Majnun
Cukup sekian dari saya..kita bisa berjumpa kembali di lain cerita bersama achmedany.blogspot.com
jangan lupabaca juga kisah kisah inspiratif
jangan lupabaca juga kisah kisah inspiratif
Demikianlah Artikel qais dan laila (laila majnun)
Sekian dongeng dari saya qais dan laila (laila majnun), mudah-mudahan bisa menghibur dan memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sekian postingan dongeng kali ini.
0 Response to "qais dan laila (laila majnun)"
Post a Comment