judul : Cicak dan buaya
subJudul : Cicak dan buaya
Cicak dan buaya
Dahulu kala,
ada cecak hidup bertetangga dengan buaya. Si cecak punya kebiasaan jelek. Dia
tidak pernah mensyukuri rezeki makanan yang didapatnya. Meskipun memperoleh
rejeki banyak, dia selalu protes kepada siapa saja yang ditemuinya. Apalagi
saat dia tidak mendapat rejeki secuil pun. Dia akan melampiaskan kemarahan
kepada siapa saja yang ditemuinya. Cacian dan sumpah serapah selalu keluar dari
mulutnya. Terkadang dia menyalahkan Tuhan. "Tuhan memang tidak adil,"
katanya. "Kenapa aku cuma bertubuh kecil? Kenapa kakiku diberi lem
perekat? Aku khan jadi sulit berlari mengejar mangsaku? Kenapa aku hanya bisa
berjalan merayap di tembok-tembok? Sementara teman-temanku bisa berlarian di
darat? Uuuhhhhh....memang Tuhan tidak adil dalam menciptakan aku," gerutu
si cecak.
Malam itu, si cecak pergi mencari makanan. Namun, sejak sore hingga tengah malam ia tidak mendapatkan makanan sepotongpun. Ia terus berkeliling ke setiap sudut tembok, namun sia-sia. Tidak ada sepotong makananpun yang dijumpainya.
"Sialan!," ia mulai menggerutu dalam hati. "Beginilah kalau kakiku dipenuhi lem perekat. Aku kesulitan mencari makan. Uuuuhhhh......dasar!"
Dan tidak jauh
dari tempat si cecak mencari makanan, ada seekor buaya yang sejak tadi
memperhatikannya. Si buaya tersenyum melihat si cecak selalu menyesali
nasibnya. "Tidak seharusnya dia berkata begitu," kata si buaya.
"Tuhan tidak pernah salah design dalam menciptakan semua
makhluk-makhluk-Nya. Tuhan menciptakan makhluk-Nya tentu sudah disesuaikan
dengan cara mereka akan memperoleh makanannya. ," lanjut si buaya .
"Hei, cicak...kenapa kamu selalu marah-marah begitu?" teriak si buaya. "Setiap hari kok kerjamu menyesali nasibmu melulu. Kamu sama sekali tidak pernah bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan tubuhmu."
"Hei, cicak...kenapa kamu selalu marah-marah begitu?" teriak si buaya. "Setiap hari kok kerjamu menyesali nasibmu melulu. Kamu sama sekali tidak pernah bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan tubuhmu."
Si cicak tidak menjawab pertanyaan
buaya. Sebaliknya, kedua matanya menatap tajam ke sekeranjang makanan
yang ada di hadapan buaya. Melihat banyak makanan membuat air liurnya
keluar. Kemudian dia mencoba mendekati si buaya. Lalu dia mulai merayu si
buaya agar memberikan sedikit makanan yang ada di hadapannya.
"Waaaah...makananmu banyak
sekali, pak buaya," kata si cicak. "Bagi-bagi dong...aku
sedang kelaparan, nih. Seharian belum mendapatkan makanan"
"Hah...kamu
minta makananku?!," teriak pak buaya. "Tidak bisaaa...tidak
bisaaa...tidak boleeeeh! Sebab makanan ini bukan milikku. Aku
cuma bertugas menjaganya saja. Buah-buah ini milik tuanku. Aku tidak berhak
memberikan sebuahpun kepada siapa saja. Aku takut melanggar janji. Aku takut
dianggap berkhianat. Aku takut dosa, kawan," kata si buaya memberi
alasan.
"Yaaaaa....minta sebuah saja masa nggak boleh? Buah di hadapanmu khan banyak tentu kalau berkurang satu saja pasti tuanmu tidak akan tahu!
"Eitsss...sekali tidak boleh ya tidak boleh...aku takut dianggap sebagai pengkhianat," kata pak buaya.
"Yaaaaa....minta sebuah saja masa nggak boleh? Buah di hadapanmu khan banyak tentu kalau berkurang satu saja pasti tuanmu tidak akan tahu!
"Eitsss...sekali tidak boleh ya tidak boleh...aku takut dianggap sebagai pengkhianat," kata pak buaya.
"Pak Buaya, aku sedang kelaparan,
nih. Bukankah menolong teman yang sedang kelaparan akan mendapat pahala dari
Tuhan. Ayo dong beri sebuah saja. Pasti Tuhan akan memberi pahala yang
buaaannnyaaaakk kepadamu," demikian rayu si cecak.
"Waaahhh ya nggak bisa begitu, cicak! Kalau amanah ya tetap amanah. Apapun alasannya. Kamu jangan membuat aku melakukan perbuatan dosa, ya."
"Lhoooo...menolong teman yang sedang kelaparan kok dikatakan berbuat dosa ," kata Cicak terus merayu.
"Waaahhh ya nggak bisa begitu, cicak! Kalau amanah ya tetap amanah. Apapun alasannya. Kamu jangan membuat aku melakukan perbuatan dosa, ya."
"Lhoooo...menolong teman yang sedang kelaparan kok dikatakan berbuat dosa ," kata Cicak terus merayu.
"Tapi makanan
ini bukan milikku, cicaaaak!" kata pak buaya mulai jengkel.
"Aku dilarang memberikannya pada siapapun. Apapun alasannya. Itu saja.
Jadi aku takut melanggar sumpah. Apakah kamu tidak mengerti juga?"
Si cicak semakin sewot. Seluruh rayuannya tidak bisa mengubah pendirian buaya. Ia masih mencari cara lain agar si buaya mau memberikan makanan yang dijaganya.
Si cicak semakin sewot. Seluruh rayuannya tidak bisa mengubah pendirian buaya. Ia masih mencari cara lain agar si buaya mau memberikan makanan yang dijaganya.
"Hehehehe...iya
dechhhh...waahhhh aku kagum terhadap keteguhan sikapmu menjaga amanah tuanmu,
kawan," kata cecak memulai rayuannya. "Aku mengaku salah
dechhh..... Aku tadi cuma mau mengujimu saja, kok. Dan kini aku sadar, aku akan
belajar kepadamu agar aku bisa memiliki sikap sepertimu. Aku ingin menjadi
makhluk Tuhan yang punya sikap amanah sepertimu. Tapiiiii.... maukah kamu
mengajariku, pak buaya?"
"Heemmmmm," si buaya agak curiga dengan perubahan sikap si
cicak.
"Benar, pak
buaya. Aku merasa bersalah. Aku merasa berdosa mencoba membuat kamu jadi
berkhianat. Sekarang aku ingin belajar darimu. Aku ingin punya pendirian kuat
sepertimu. Aku ingin merobah sikapku yang salah. Aku ingin memiliki sikap
amanah sepertimu. Aku ingin berubah, kawan."
Rupanya pak Buaya mulai
luluh hatinya. Ia mulai merasa iba pada perobahan sikap si cecak. Ia akhirnya
mulai percaya dan hanya berpikir positif terhadap perubahan sikap si
cecak. Oleh karena itu, ia menyatakan bersedia mengajari si cecak.
"Terima kasih, pak buaya. Terima kasih....terima kasih....ayoooo... kita segera mempraktekkan pelajarannya sekarang saja ," kata si cicak kegirangan.
"Terima kasih, pak buaya. Terima kasih....terima kasih....ayoooo... kita segera mempraktekkan pelajarannya sekarang saja ," kata si cicak kegirangan.
Pak buaya merasa senang dengan sikap
si cecak yang penuh semangat ingin menjadi teman yang amanah dan memiliki
tanggung jawabterkejut mendengar kegembiraan si cecak dan ingin langsung
mempraktekkan saat itu juga.
"Hah....mempraktekkannya sekarang juga?," kata pak buaya keheranan. "Kenapa harus secepat itu kamu ingin belajar dariku?"
"Yaaaa iyalah...khan aku kepingin secepatnya merobah sikap menjadi amanah sepertimu ! Kalau ditunda-tunda nanti aku bisa berobah pikiran." kata si cicak.
Si buaya berpikir, kalau si cecak berubah pikiran tentu ia tidak bisa lagi punya kesempatan merobah sikap jeleknya. Nah, mumpung ia bersemangat mau belajar maka ia menyetujui saja saran si cecak.
"Baiklah kalau begitu," kata buaya. "Kita mulai belajar darimana, kawan?"
"Hah....mempraktekkannya sekarang juga?," kata pak buaya keheranan. "Kenapa harus secepat itu kamu ingin belajar dariku?"
"Yaaaa iyalah...khan aku kepingin secepatnya merobah sikap menjadi amanah sepertimu ! Kalau ditunda-tunda nanti aku bisa berobah pikiran." kata si cicak.
Si buaya berpikir, kalau si cecak berubah pikiran tentu ia tidak bisa lagi punya kesempatan merobah sikap jeleknya. Nah, mumpung ia bersemangat mau belajar maka ia menyetujui saja saran si cecak.
"Baiklah kalau begitu," kata buaya. "Kita mulai belajar darimana, kawan?"
Si cecak tertawa senang.
"Akhirnya aku bisa menjalankan tipu muslihatku," pikir si
cecak. Dia sebenarnya berpura-pura ingin belajar merobah sikap kepada pak
buaya. Namun tujuan sebenarnya adalah ingin menguasai makanan yang sedang
dijaga si buaya. Dan ternyata akal liciknya mulai menemui keberhasilan.
Kemudian, dia menyarankan agar pelajaran pertamanya adalah belajar menjaga
makanan yang ada dihadapan buaya.
"Begini, Buaya. Aku
ingin belajar memiliki sikap amanah dengan menjaga makanan di hadapanmu itu.
Kamu bisa mengawasiku dari jauh. Bukankah kamu sudah lama menjaganya. Tentu
kamu merasa capek, khan? Nah, sekarang kamu bisa istirahat. Biarlah
makanan-makanan ini aku yang menjaganya."
Sebenarnya ada sedikit
keraguan di hati pak buaya. Sebab dia harus pergi menjauhi makanan yang ia jaga
dan ia harus mengawasinya dari kejauhan. Namun, ia percaya dan yakin
bahwa si cicak tidak mungkin berani berbohong padanya. Bukankah dia sudah
insyaf dan mulai belajar memiliki sikap amanah? Lagian, dia hanyalah hewan
kecil. Kalau sampai berani berbohong maka pak buaya akan memukul tubuh si
cecak dengan ekornya sampai tewas.
"Tapi ada satu
permintaanku, Cicak." kata pak buaya. " Bila sewaktu-waktu
pemiliknya datang maka kamu harus berpura-pura menjadi aku lho...kamu harus
memegang amanah. Jangan suka berdusta." lanjut pak buaya. Pak
buaya hanya mengawasinya dari kejauhan.
"Iyaaaa...iyaaaa... pak buaya, ayo segeralah beristirahat di kejauhan sana!" bentak si cicak sambil berjalan menuju ke sekeranjang makanan di depannya.
"Iyaaaa...iyaaaa... pak buaya, ayo segeralah beristirahat di kejauhan sana!" bentak si cicak sambil berjalan menuju ke sekeranjang makanan di depannya.
Si cicak tertawa dalam hati. Kini dia
berhasil mengelabui pak buaya. "Dasar buaya tolol...akhirnya aku bisa
menipunya," pikir si cecak. Lalu si cicak mulai merencanakan menghabiskan
makanan di hadapannya tanpa sepengetahuan pak buaya. Namun, ia masih menunggu kesempatan
yang tepat yaitu pada saat pak buaya sudah tertidur.
Beberapa saat kemudian ketika si buaya
benar-benar sudah tertidur, lalu si cecak cepat-cepat mendekati sekeranjang
makanan yang dijaganya. Dia mulai memilih makanan yang terlezat untuk disantapnya.
Namun, ketika si cecak akan
melaksanakan niatnya, tiba-tiba dari kejauhan datanglah seekor singa mendekat
sambil bernyanyi-nyanyi dan berteriak-teriak.
"Hohoho...hihihi...hahahaha...huhuhuhuu...aku datang...aku dataaaaannngggg aku datang....Pak Buaya aku datang......pak buaya aku datang....Pak buaya aku mau mengambil makananku," teriak pak singa.
"Hohoho...hihihi...hahahaha...huhuhuhuu...aku datang...aku dataaaaannngggg aku datang....Pak Buaya aku datang......pak buaya aku datang....Pak buaya aku mau mengambil makananku," teriak pak singa.
Si cicak nyalinya menjadi ciut
melihat kedatangan si singa. "Hah ...pemilik makanan ini ternyata Pak
Singa? Gawaaatttt!!!! Bagaimana ini?!" pikir si cecak
ketakutan. Maka niat ingin menghabiskan makanan di hadapannya akhirnya batal.
Dia kini merasa ketakutan menghadapi pak singa. Ia berniat mau melarikan diri,
namun tubuhnya bergetar ketakutan. Dia sulit menggerakkan kakinya. Dia berpikir
kalau sampai pak singa tahu bahwa yang menjaga makanannya bukan pak buaya maka
pak singa akan marah besar. Dan ia ingat pesan pak buaya bahwa bila pemiliknya
datang maka ia harus berpura-pura menjadi pak buaya.
"Tapi tubuhku kecil," pikir si cecak. "Lalu bagaimana caranya agar aku bisa berpura-pura menjadi buaya dalam waktu sesingkat ini? Aduuuuhhhhh....gawat si singa semakin dekat saja." kata si cicak makin resah dan ketakutan.
"Tapi tubuhku kecil," pikir si cecak. "Lalu bagaimana caranya agar aku bisa berpura-pura menjadi buaya dalam waktu sesingkat ini? Aduuuuhhhhh....gawat si singa semakin dekat saja." kata si cicak makin resah dan ketakutan.
Si cicak semakin kebingungan. Dan
tanpa pikir panjang ia segera minum air sungai di hadapannya
sebanyak-banyaknya. Dia berpikiran bahwa dengan minum air sebanyak-banyaknya
maka tubuhnya akan membesar menyamai tubuh pak buaya. Dia tidak memikirkan
akibatnya. Dia cuma berusaha menyelamatkan diri dengan cara menyamai bentuk
tubuh pak buaya.
Namun, rupanya usaha si cicak berhasil. Kini
tubuhnya nampak membesar berisi air. Tubuhnya sekilas nampak seperti tubuh pak
buaya. Tapi, akibat memaksakan diri minum air sebanyak-banyaknya membuat daya
tahan tubuhnya mulai melemah. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dan tidak
berapa lama tubuhnya mulai mengambang di permukaan air. Ia telah mati sebelum
bisa menikmati makanan yang dijaganya.
Sementara itu, pak singa nampak senang melihat makanannya masih utuh.Tidak ada secuil makanan pun yang hilang. Dia bangga dengan sikap amanah pak buaya dalam menjaga makanannya. Dia senang dengan kejujuran pak buaya. Untuk itu, pak singa memberikan hadiah beberapa biji buah kepada pak buaya agar bisa dinikmati bersama keluarganya. Pak buaya gembira menerima hadiah sambil terus memandangi tubuh si cicak yang semakin menjauh terbawa arus sungai.
Demikianlah Artikel Cicak dan buaya
Sekian dongeng dari saya Cicak dan buaya, mudah-mudahan bisa menghibur dan memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sekian postingan dongeng kali ini.
0 Response to "Cicak dan buaya"
Post a Comment